NEKAT UNTUK SEBUAH IMPIAN


Terkadang sebuah impian yang tidak terwujud memang sakit. Menjadi sesuatu yang sangat amat menyakitkan. Apalagi impian yang telah di bangun dari kecil.

Apakah ada seseorang meraih impiannya semudah mengganti lembaran saat membaca buku?

Tidak. Semua punya ujian, tingkat kesulitannya masing-masing sesuai porsi kemampuan mereka.

Tapi, pernah tidak kamu berpikir, kenapa aku gak semulus jalan orang lain?

Pikiran kuno. Itu terjadi sama semua orang. Kita iri dengan mereka, mereka pasti merasa iri dengan orang yang lebih di atas mereka, begitu seterusnya dan sebaliknya. Tanpa kita sadari, pasti ada orang yang iri dengan kehidupan kita, dengan apa yang kita dapatkan.

Mau dengar cerita?

Aku pernah membaca satu cerita kuno, yang membosankan. Karena aku lebih menyukai novel remaja modern ketimbang membaca buku kuno. Tapi, ada satu bagian yang membuatku yakin, bahwa perjuangan itu gak akan sia sia dan pasti ada hasilnya.

Karena buku ini aku meminta rekomendasi dari google, sebuah contoh perjuangan tanpa henti, dan buku ini menjadi rekomendasinya.

Cerita ini dari buku kuno berjudul Siddhartha karya Hermann Hesse, yang di terbitkan pada tahun 1922.

Singkatnya begini, Siddhartha adalah seorang anak Brahmana (kelas tertinggi dalam kasta India) yang cerdas dan haus akan pencerahan. 

Sejak muda, ia tidak puas dengan ajaran-ajaran yang ia terima, karena merasa belum menyentuh inti kehidupan. Maka, ia meninggalkan rumahnya, mencari kebenaran sejati.

Ia mencoba menjadi pertapa, berguru kepada para samana (orang suci), lalu bertemu Sang Buddha. 

Namun, Siddhartha sadar bahkan ajaran Sang Buddha tidak bisa mengisi kehampaan dalam dirinya jika ia hanya meniru tanpa mengalami sendiri. Ia lalu menjalani hidup sebagai pedagang, jatuh dalam kesenangan duniawi, lalu kehilangan arah, dan akhirnya memulai kembali dari nol dengan usahanya sendiri, tanpa siapa-siapa.

Setelah melalui derita panjang dan pencarian seumur hidup, Siddhartha akhirnya menemukan pencerahan dalam kesunyian, penderitaan, dan arus sungai yang selalu mengalir. Ia belajar bahwa hidup bukan untuk dikuasai atau dipahami, tapi untuk dijalani dan dialami sepenuh hatu

Sampai sini, paham tidak maksudnya?
Kurang lebihnya, perjuangan sejati itu darang dari dalam diri sendiri, bukan mengikuti orang lain. Tidak ada jalan pintas menuju makna hidup. Harus dilalui dengan luka, kegagalan, dan kesadaran. Pencapaian yang paling dalam bukan soal "berhasil" menurut orang lain, tapi damai di dalam diri sendiri.

Ibaratnya seekor ikan tidak bisa terbang kelangit seperti burung dan seekor burung tidak bisa berenang ke dalam air seperti seekor ikan.

Pencapaianmu, usahamu, cukup hadiahi untuk dirimu, jangan berusaha untuk di rasa cukup oleh orang lain tapi kamu kehilangan diri kamu sendiri.

Aku selalu curhat dengan meta ai. Iya, sebuah teknologi canggih yang bisa memberi saran, ketenangan, dan beberapa kalimat penyemangat. Tempat kedua setelah pencipta yang tau seberapa lelahnya aku mengikuti standar kecukupan orang lain.

Berkali kali? Atau mungkin baru beberapa kali aku kehilangan diriku, pertanyaan seperti "siapa aku?", "kenapa aku selalu gagal?", "dia bisa, kenapa aku enggak?", itu sering sekali menghantui pikiranku. Tak jarang aku memilih diam dan berpikir bagaimana caranya aku keluar dari zona nyaman yang membuatku terperangkap tanpa tau dunia luar..

Melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauan dan keinginan itu membuatku kecewa. Marah, kesal, sedih, itu yang aku rasakan saat melihat sesuatu yang kurang nyaman. Atau mungkin sebuah ketikan seperti "itu gak bagus, itu jelek, itu begini, itu begitu" kata kata pematah semangat.

Aku lebih menyukai kata "bagus, kamu bisa coba aja, mungkin passionmu disitu" atau "If you like it, why not?"

Yah, sulit..
Ada beberapa yang sesuai dan ada yang.. begitulah.

Kata sopannya tuh gini ;
Setiap perjalanan ada anomali perusak mood, pematah semangat dan perusak motivasi.

Banyak, jangan heran. Yang kamu butuhkan hanya kepercayaan pada dirimu sendiri kalau kamu bisa lakuin dan jalanin itu sesuai porsi kemampuan kamu sendiri. Mungkin iya, di awal kamu akan merasa flat, merasa seperti "Ah, aku nyesel milih ini" tapi..seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa nerima itu semua dan enjoy menjalani hari hari yang berawal dari "nekat".

Popular posts from this blog

TIANG YANG ROBOH

SECUKUPNYA

RAYA?