RAYA?
Tau arti dari kata hari ini?
Raya.
Empat huruf dengan beribu-ribu makna dan kenangannya.
Suara takbir yang di putar setiap sudut menandakan sebuah kemenangan bagi umat yang merayakan.
Menyiapkan baju baru, dan merapikan rumah. Semua harus terlihat indah dan bagus di hari itu. Berlomba-lomba menghias dan membersihkan rumah menjadi yang terbaik di hari itu.
Mau dengar cerita?
Dulu, ada seorang anak perempuan yang sangat disayangi dan di manjakan oleh kedua orang tuanya. Gadis kecil yang lucu dan penuh tawa selalu menghiasi suasana rumah. Di hari raya, gadis itu bersiap dengan pakaian paling cantik yang baru dia beli bersama ibunya. Baju panjang dengan motif bunga di setiap gambarnya, sangat amat cantik. Gadis kecil yang selalu bersemangat lebih awal dan bangun lebih pagi hanya untuk mengecek apakah sudah waktunya sholat eid atau belum.
Anak itu selalu terlihat bahagia. Dilihat dari senyumnya yang tulus dan manis, dia tidak pernah berbohong soal ekspresi. Saat hari kemenangan tiba, ia adalah anak yang paling bahagia. Memakai baju baru, sendal baru dan memamerkan pada kerabat dengan berkata "Lihat! Aku cantik kan? Ibuku membelikan baju ini di pasar kemarin" tidak lupa dengan senyumnya.
Orang-orang akan memujinya dan saling salam menyalami. Setelah itu, dia akan pergi bersama teman-teman, entah kemana mengukur jalan dengan kaki-kaki mungil itu dari rumah ke setiap rumah.
Kata-kata seperti "Assalamualaikum, pesiar" atau "Assalamualaikum, bertamu" entah sama siapapun itu. Pergi dengan kantong kosong dan pulang membawa beragam jenis kue, kadang juga minuman atau uang. Dia lebih senang dan semangat ketika menerima uang [haha].
Harus itu bertahan lama, kan?...
Tahun demi tahun, senyum yang selalu terpancar dengan ketulusan perlahan sirna di gantikan dengan tatapan sendu dan tangis di malam takbir. Hari yang harusnya menjadi hari paling bahagia dengan terkumpulnya semua anggota keluarga untuk merayakan kemenangan harus sirna.
Di dalam rumah yang dulu terang karena cahaya keharmonisan, sekarang harus redup karena hancurnya keharmonisan itu. Satu persatu keluarga mulai pergi, entah kembali ke pangkuan yang Mahakuasa atau bisa dari pulau ke pulau.
Hari itu harusnya menjadi hari paling bahagia dan kesempatan untuk menghabiskan seharian bersama orang tersayang.
Lalu, bagaimana dengan anak kecil itu?
Senyuman manis itu, hilang. Hilang seiring dengan berjalannya waktu. Hanya tangis, tangis dan tangis yang terdengar. Padahal ia tau, tangisan tidak akan merubah dan mengembalikan masa-masa itu. Masa-masa menjadi seorang anak kecil yang belum paham dan masih berjalan dengan tuntunan ayah dan ibu, jauh dari tanggungjawab dan beban berat yang di rasakan ketika ia dewasa.
Bagaimana kabarnya?
Sejauh ini, mungkin baik. Tidak tau kalau esok, lusa atau nanti. Apakah senyuman yang sudah jadi senjata untuk menutup semuanya akan terus seperti itu atau akan kembali seperti dulu?
Jawabnya mustahil. Dia tau itu mustahil, tapi hatinya tetap memaksakan takdir. Memaksakan takdir yang sudah di atur. Aneh.
Karena pada akhirnya, anak kecil yang ceria itu seperti asing di dalam lingkungan baru. Ia tetap berdiri di belakang bayang- bayang masa lalu dan menolak untuk membuka lembaran baru.