TIANG YANG ROBOH
Setiap langkah seorang anak perempuan harusnya di dampingi oleh cinta pertamanya. Siapa? Ayahnya.
Kata orang, keluarga adalah tiang kehidupan. Lalu bagaimana jika salah satu tiang yang harusnya menjadi penahan bangunan itu roboh? Berharap pada apa bangunan itu bisa kembali utuh? Pada anak pertama yang sudah merasakan susahnya kehidupan orang tuanya? Pada anak kedua yang terbiasa diberi kasih sayang dan tidak pernah dibiarkan sendiri? Atau justru pada anak ketiga?
Lalu, siapa yang akan menjadi penopang ketika tiang utama itu hilang? Bukankah dunia terasa berbeda tanpa keberadaan ayah yang melindungi dan menyemangati? Haruskah mereka terus berjalan dengan kekosongan itu, atau malah tumbuh dengan cara yang baru—berdiri sendiri, lebih kuat dari yang mereka kira, karena dunia tidak akan menunggu?
Semua bisa dilakukan dengan kerja sama. Iya, tiga anak dengan pandangan mereka yang berbeda. Namun, apakah yakin mereka bisa membuat bangunan itu kuat tanpa ada yang menyemangati? Tanpa suara yang dulu memberi keyakinan, tanpa tangan yang dulu menuntun? Bisa jadi, kerja sama itu tetap ada, namun tak ada yang bisa menggantikan kekuatan yang datang dari sebuah semangat yang tak pernah pudar. Tanpa semangat itu, mampukah mereka terus berdiri tegak?
Ini bukan hanya sekedar tiang.