Rumah.
Kalau ada satu tempat
yang pernah membuatku merasa aman tanpa syarat,
mungkin itu rumah.
Dulu,
Aku bahagia.
Bukan bahagia yang dipikirkan,
bahagia yang begitu saja ada.
Sekarang…
kalau kubandingkan dengan hari ini,
rasanya seperti dua kehidupan
yang tak pernah saling mengenal.
Kerinduan itu datang tiba-tiba.
Datang saat ingatanku berhenti
pada satu pagi,
ayah pulang dari luar kota,
membawa sekantong…
bahkan dua kantong plastik
berisi jajanan untukku.
Aku masih anak kedua waktu itu.
Masih aku.
Masih dunia yang utuh.
Kasih sayang orang tuaku
belum terbagi ke mana-mana.
Masih seratus persen
jatuh ke tanganku yang kecil.
Aku ingat jelas,
kelas tiga sekolah dasar.
Dengan langkah penuh bangga,
aku membawa jajanan itu ke sekolah.
Kuperlihatkan pada teman-temanku
dengan senyum merekah di wajahku.
Aku tak pernah merasa kurang.
Tak pernah merasa sendiri.
Tapi rumah…
ternyata bisa rapuh.
Pelan-pelan, ia terkikis.
Hujan datang tanpa izin,
air merembes,
kayu-kayunya lapuk
oleh waktu yang tak bisa kutahan.
Aku sempat bersuara.
Aku benar-benar bersuara.
“Ayah…kayu rumah kita rapuh…”
Namun kalimat itu
hilang.
Terbawa angin.
Tak pernah kembali.
Ayah…
Ayah…
Ayah…
Rumah kita…
Ibu berlari memelukku.
Erat.
Hangat.
Tapi hanya sebentar.
Lalu ia pergi.
Mencari rumah lain,
katanya lebih nyaman,
lebih aman
untuk ditinggali.
Dan aku…
aku tinggal.
Sekarang hanya aku
dan puing-puing rumahku.
Aku memeluk tubuhku sendiri.
Menunduk.
Tak berani menatap sekitar.
Aku takut.
Karena setiap kali kuangkat kepala,
tatapan orang-orang terasa berat.
Seolah menilai,
seolah mengejek,
seolah aku harus menjelaskan
mengapa rumahku runtuh.
Sedikit demi sedikit,
aku membangun rumahku lagi.
Fungsinya sama.
Untuk berlindung.
Untuk bertahan.
Tapi bedanya…
tak ada cahaya di dalamnya.
Hanya gelap
yang menemani.
Pintuku kututup rapat.
Tak peduli berapa banyak orang yang mengetuk.
Tak peduli berapa banyak yang memanggil,
memintaku keluar,
memintaku percaya lagi.
Ayah…
Ibu…
Lelah sekali rasanya
harus terus berpura-pura kuat.
Harus terus berdiri
di tanah yang semakin curam.
Aku rindu pulang.
Aku rindu tawa kita.
Aku rindu rumah
yang dulu memelukku
tanpa bertanya apa pun.
ayahku tidak pernah gagal menjadi seorang ayah. ia hanya gagal membuat rumah dengan bahan yang lebih kuat. sayangnya, rumah indah itu sudah lenyap. yang tersisa hanya aku, dan kegelapan.