Rumah.
Kalau ada satu tempat yang pernah membuatku merasa aman tanpa syarat, mungkin itu rumah. Dulu, Aku bahagia. Bukan bahagia yang dipikirkan, bahagia yang begitu saja ada. Sekarang… kalau kubandingkan dengan hari ini, rasanya seperti dua kehidupan yang tak pernah saling mengenal. Kerinduan itu datang tiba-tiba. Datang saat ingatanku berhenti pada satu pagi, ayah pulang dari luar kota, membawa sekantong… bahkan dua kantong plastik berisi jajanan untukku. Aku masih anak kedua waktu itu. Masih aku. Masih dunia yang utuh. Kasih sayang orang tuaku belum terbagi ke mana-mana. Masih seratus persen jatuh ke tanganku yang kecil. Aku ingat jelas, kelas tiga sekolah dasar. Dengan langkah penuh bangga, aku membawa jajanan itu ke sekolah. Kuperlihatkan pada teman-temanku dengan senyum merekah di wajahku. Aku tak pernah merasa kurang. Tak pernah merasa sendiri. Tapi rumah… ternyata bisa rapuh. Pelan-pelan, ia terkikis. Hujan datang tanpa izin, air merembes, kayu-kayunya lapuk oleh wakt...